Senin, Juni 02, 2014

Dari Jetis Kembali ke Cokroaminato


Mungkin jaket itu memang jaket baru buatku walau kenyataanya itu cuma jaket bekas. Yup. Jaket bekas pemberian dari yang tersayang, Adikku. Wuih! Jaket high-neck dengan warna putih sebagai dasarnya dan empat garis berwarna biru gelap dan merah di bagian dadanya. Keren dan macho, man! Aku suka itu! Tapi tetap saja, mau sebaru dan semasih-bagus apa pun jaket itu, tetap saja aku ingin mengumpat, “Dasar jaket baru pembawa masalah!”

Sore tadi, seusai mendengarkan curhatan dan keluh kesah Mbak Yu Nanda dari kelas XII IPA 3, saya agak tergesa karena les akan dimulai lima belas menit lagi sedangkan keseluruhan jiwa dan raga saya masih nangkring di dekat masjid Al-Uswah. Seperti biasa, saya langsung tancap gas, berlari menuruni tangga masjid, dan menuju trotoar untuk menyeberang jalan dengan menambah sedikit lagi kecepatan lariku yang saya yakin, sekarang saya kelihatan seperti maling yang tertangkap basah mencuri ayam di rumah tetangga dan diteriaki, “Maling..! Maling..! Maling!!” karena sebegitu cepatnya saya berlari dengan wajah yang panik dan tergopoh-gopoh.

Sesampainya saya di seberang, yang bisa saya lakukan kini hanyalah menunggu bus jalur 12 dengan setengah kesabaran. Ha, ya, gimana lagi, les akan dimulai sepuluh menit lagi, ya, mana mungkin sabar, Mbokdhe..! Sebenarnya saat itu saya sudah melakukan dua, eh, tiga kesalahan tapi saya tak juga menyadarinya. Pertama, saya menunda waktu keberangkatan saya karena sudah sok-berbaik-hati mau mendengarkan curhatan seorang teman. Kedua, saya melakukan kesalahan ketiga, yaitu dengan bodohnya SAYA MASUKIN HAPE SAYA KE SAKU JAKET SAYA!! Oi, Mbak! Sadar nggak, sih, lu kalau hape lu taruh situ, hape lu bisa jatuh?? Wah, jujur saja saya sama sekali nggak sadar lantaran saya saat itu sedang sibuk melantunkan mantra yang entah ampuh-atau-tidak tapi yang jelas akhirnya saya tahu kalau mantra itu lebih manjur daripada ketik REG spasi MANJUR kirim ke 9877, “YaAllahYaAllahYaAllah.. Kumohon-jika-dia-jodohku, dekatkanlah, namun-jika-dia-bukan-jodohku, jauhkanlah.. Duhai, bus jalur 12.. Koe nang endi taaaahh!! Gek ndang muncul taah..! Opo cen sakjane kowe ki dudu jodoku??

Kemudian mendadak moncong bus jalur 12 muncul dari ujung kelokan jalan. HOREE..! Alhamdulillah..!! Saya si tukang heboh pun dengan bangga mempersembahkan kelegaan saya karena bus 12 sudah datang!! Sipp.. Langsung saja saya naik ke bus dengan sedikit meloncat, hup! Lalu duduk di samping Pak Supir yang sedang menyupir.

Baru lima detik lama perjalanan, saya meraba saku jaket saya dan saya menyadari, sesuatu yang sangat salah sedang terjadi. Saku jaket saya kosong melompong.

Lah, hape? Hape saya di mana??

Dengg..!! Olala, Olili, dan Oh-my-God. Prettt..!! Pasti jatuh di tempat aku nunggu bus tadi! Kok aku bisa bodoh banget, ya, nggak mikir kalau bahan jaketku khan licin jadi ntu hape pasti bakalan jatuh!!

Anehnya walaupun dalam hati saya sudah panik nggak karuan, saya masih sok stay cool aja duduk di tempat dengan anggun. Ya wislah.. Namanya juga jatuh. Toh jatuhnya di sana.. Banyak rumput dan tumbuhan. Siapa yang juga bakal sadar kalau di situ ada hape ketinggalan..? Santailah, Wand.. Besok pagi yo pasti iso dijupuk kok.

Saya nggak tahu apa yang salah dengan diri saya saat itu. Saya belum sadar betapa IDIOT-nya saya bahkan hingga lima menit ke depan..

Oh iya. Mengko meneng wae ndak malah diseneni maneh.. Njut dinesuni Bapak, “Cah GOBLOK!! Hape ki buat nelpon bukannya buat diilangke maneh!!” Hmm.. Ya. Gitu aja. Ntar sore sesudah les, aku SMS ke hapeku lewat nomor Adek aja : "Buat yang nemu hape ini, tolong simpen dulu. Besok saya ambil. Saya anak SMANSA.." Nah. Gitu aja, pasti oye...

Kemudian saya terdiam. Lamaaaa sekali. Terdiam dengan tatapan kosong. Dan sejenak ilham datang ke otak saya, barulah saya sadar apa yang sekarang sedang saya lakukan. Prettt..! Ya ampun, Wand..!! Itu tindakan terbodoh yang hari ini kau lakukan! Hape ketinggalan ki yo gek ndang dijupuk! Ayo gek medhun..! Jupuk hapene saiki! Wis reti ilange nang endi barang kok yo malah ditunda njupukke sesuk??

“Kiri, Pak!!” Bagus. Akhirnya aku melakukan satu tindakan benar hari ini. Sayangnya saat ini aku tepat berada di dekat SAMSAT. Ini sudah terlalu jauh dari SMA Teladan untuk ditempuh hanya dengan mengendarai kaki. Tak ada jalan lain kecuali menunggu -sekali lagi- jalur 12 yang datang dari arah yang berlawanan dengan bus yang tadi kutumpangi.

Wah, saat itu benar-benar tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Saya rasa yang bisa menggambarkan perasaan saya paling tepat saat itu adalah dengan cara menangis meraung-raung di tengah jalan dan meratapi semua ketololan saya, tapi garis bawahi ini: Itu adalah cara yang tepat kalau saya sudah nggak waras. Lha, saya masih waras? Tentu! Jadi saya tidak melakukannya. Tapi tidak saya pungkiri, saat itu saya benar-benar merasa putus asa. Rasanya pengin banget nangis. Terpaksa saya terlambat les -atau bahkan bolos les- demi menemukan hape tersayang. Habisnya hape itu bukan sembarang hape..! Jika saya sampai kehilangan hape itu, itu tak hanya berarti saya kehilangan salah satu properti saya, tapi saya juga akan kehilangan kepercayaan dari orang tua saya!! Tidak, tidak, tidaak..! Saya tidak akan tinggal diam membiarkan hal itu terjadi!

Karena saya terlalu kalut dan terlalu sibuk melantunkan mantra lain, yang isinya berupa do’a permohonan supaya hape saya masih berada di tempat yang sama, saya tak menyadari bahwa saya telah menaiki bus jalur 12 dan tiba-tiba saja kini saya sudah tiba di sekolah lagi kira-kira pukul empat lewat sepuluh menit. Rasanya kayak sulap aja.

Tapi saya tak menghabiskan bahkan satu detik pun untuk terpana dan terkaget-kaget lagi. Mungkin saja ini mukjizat. Saya langsung berlari menuju lapvol(baca. lapangan voli) dan menelusuri balik jalur yang tadi saya lalui. Yah, siapa tahu aja jatuhnya hape saya kali ini di tempat yang sama ketika dulu saya menjatuhkan hape? Tapi, duh! Ternyata nggak ada! Sebentar.. Sebentar.. Stay cool, Wand.. Stay cool.. Saya berusaha menenangkan diri saya sendiri.

Saya berlari ke seberang jalan tempat saya menunggu bus. Tentu sembari menengok kanan-kiri untuk mengecek adakah kendaran yang lewat. Sesampainya di seberang, saya langsung mengecek pot besar tempat saya duduk tadi. Saya sibakkan semua rerumputan di sekitar pot besar itu. Tapi tetap saja, NIHIL!
Terus hapeku di mana?? Saya mulai panik walau daritadi sebenarnya juga sudah panik. Ketika itu saya sudah sangat putus asa dan kehilangan keoptimisan saya. Saya kembali ke sekolah dengan langkah yang lebih gontai. Saya memutuskan untuk mengecek di daerah dekat tangga masjid akhwat. Siapa tahu hape saya terlempar ketika saya berlari layaknya seekor cheetah saat itu?

Tapi belum jauh aku berjalan, tiba-tiba ada suara yang memanggilku, “Mbak…!!”

Aku menoleh dan jilbabku pun berkibar-kibar dan bisa kubayangkan bahwa diriku saat itu seperti dalam adegan film yang sedang slow motion dengan sunset sebagai latar belakangnya walaupun kenyataannya sekarang belum waktunya matahari untuk terbenam dan saya itu sedang mengenakan jaket sehingga mustahil jilbab saya berkibar-kibar kayak bendera merah putih.

Saya amati sebentar sosok orang yang memanggil saya dan tak perlu waktu lama bagi saya untuk menyadari bahwa orang itu adalah mas-mas yang seingat saya berada di dekat saya ketika saya sedang menunggu bus jalur 12 tadi dan sedang mereparasi sesuatu yang berbentuk kotak -entah apa- di dekat halte bus TRANS JOGJA. Dia bertanya sambil sedikit berteriak, “Cari apa, Mbak..?”

Rasanya seperti ada secercah harapan menembus ke relung hatiku mendengar pertanyaan Mas itu. Saya pun menjawab dengan sedikit berharap, “Handphone..”

“Oh.. Sini, Mbak!” begitu ujarnya sambil memberi isyarat untuk mengikutinya menyeberang jalan.
Saya yakin saat itu mata saya tengah berbinar-binar. Sekali lagi saya menyeberang trotoar mengikuti Si Mas-yang-tadi-itu. Saya baru sampai ketika Si Mas-yang-tadi-itu membuka bagasi motornya dan mengambil sesuatu yang warnanya hitam dan bentuknya seperti… pistol?? Masya Allah! Tentu saja bukan. Ini adalah kisah saya, bukan film action. Barang yang Si Mas-yang-tadi-itu ambil adalah sesuatu berwarna hitam yang bentuknya seperti handphone.

“Merknya apa, Mbak?”

Saya langsung menjawab, "Samsung..," walau jujur saja saat itu saya sendiri nggak yakin apa bener hape saya itu Samsung atau bukan. Saya sendiri memang nggak pernah hapal merk hape apa yang saya punya. Apalagi kalau ditanya seri berapa. Waktu kasus hape-ilang saya yang dulu saja, saya hanya bisa menyebutkan password untuk membuka hape saya itu dan beberapa SMS yang baru-baru ini sering nyasar ke hape saya sebagai bukti bahwa ‘Hape yang ente pegang sekarang itu memang hape saya!!’.

Mendengar jawaban ‘Samsung’ saya, Si Mas-yang-tadi-itu tersenyum sambil berkata, “Lain kali hati-hati, ya, Mbak..,” kemudian memberikan handphone tersebut kepada saya.
Wah, saya terharu sekali. Ternyata masih ada orang jujur! Saya cek sebentar hape saya –menyalakan kemudian memasukkan password- kemudian kembali berkata, "Makasih ya, Mas!! Maaf ga bisa mbales apa-apa...."

"Aduh, nggak papa, Mbak.."

Walaupun Masnya memang bilang ‘nggak papa’, saya tetap saya nggak enak. Nggonduk tidak bisa memberikan apapun sebagai tanda terima kasih. Oleh karenanya, saya langsung balik badan perlahan, masuk ke halte TRANS JOGJA untuk sekadar melarikan diri dari ke-nggonduk-an saya. Toh, saya juga masih harus ke tempat les sekalipun saya sama sekali nggak ada niat untuk les. Walaupun berniat untuk membolos, kan setidak-tidaknya saya harus tetap stand by di tempat les ketika Ibu saya menjemput supaya Ibu saya nggak bertanya-tanya apa yang tadi terjadi sehingga saya sampai nggak les.

Hah. Bolos les memang bolos les. Tapi saya merasa saya telah mempelajari dan menyadari sesuatu yang berharga di sore itu. Mengenai apa arti sebuah handphone…, eh, maksudnya, mengenai apa arti sebuah kebaikan kecil, ding.

2 komentar:

zizdont mengatakan...

mesakne,

tak qro ending-e '' walopun hape ilang, gak jadi les pun senang'', hahaha...

Cobalt Blue mengatakan...

hag hag.. ketemu kok hapene! Ngarang ae..!

Iki mung file sing ta'enggo buat tugas'e Pak Dion, sih.. Cuma asal majang ae.

Thanks wes nyempetke kumen.